Habiburrahman As Sairozi
"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk
kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr.
Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan
Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di
Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada
Professor dipersilahkan. ..."
Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan
resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di
tepi sungai Nil, Kairo. Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa
kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati
mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan
pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan
sering nongol di televisi itu.
Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih
melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya
memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia
memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat,
mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video
dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara,
seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...
Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma
ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat
lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada
kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita...
Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan
cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya,
yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya,
mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa
mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya
dan buanglah lumpurnya.
Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras,
melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan
kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu... Saya adalah seorang pemuda, hidup di
tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira
tinggi, keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak
kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di
Ma'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang
jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.
Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam
suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup
sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga
besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau
kalangan high class yang sepadan! Entah kenapa saya merasa tidak puas
dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu
dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan
benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul
dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan
penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga
saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status
sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat
dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga.
Namun saya tidak peduli. Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar
dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka
kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa
berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia
lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka
pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di
Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.
Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah.
Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil
biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen.
Tetapi beliau menolak mentah-mentah.
"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas
ayah. Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah
habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati,
saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah. Ketika itu saya
jatuh cinta pada teman kuliah.
Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan
kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan
wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan
kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan.
Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.
Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa
telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk
menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu
ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di
fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua
menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang
lurus.
Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati
pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan
saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan
kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian
serta tutur bahasanya yang halus.
Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya
beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting
gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini
tidak boleh terjadi selamanya!
Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan
dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya
nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak
terkira.
Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku
sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang
cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan
dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki
sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan
baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak
banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan
tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama
sekali tidak mengecap bangku pendidikan.
Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri
sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa
pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu
langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500
ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil
seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak
direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti
pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa di luar
akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar?
Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari
strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar
adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat
keluarga besar Al Ganzouri."
Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah
saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat
sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang
jelas berzina justru difasilitasi.
Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup
saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta
pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup
baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu
saja.
Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya.
Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan
harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala
quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui
penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk
mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan
reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad
menikah dengan saya.
Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak
pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga
dia menolak karena alasan membela kehormatan. Berhari-hari saya dan dia
hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu
tidak memiliki kesejukan cinta? Setelah berpikir panjang, akhirnya saya
putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini.
Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma'dzun syari
(petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan
identitas kami dan kami minta ma'dzun untuk melaksanakan akad nikah kami
secara syari'ah mengikuti mahzab imam Hanafi.
Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya
terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar
yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu
Hanifah." Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air
mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah
itu.
Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata
Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan
kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir. Seperti
yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat
murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata.
Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil
dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa
apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang
sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar
ongkos akad nikah di kantor ma'dzun.
Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi
ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak
lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!
Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu
di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada
puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara
campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca
bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang, rasa
berdaya dan hidup menjalari sukma kami.
"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti
ini. Maafkan Kanda!" "Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda
tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar.
Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti
cara berpikir anak kecil.
Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah.
Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini. Percayalah, insya
Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia
membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka
bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat
kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita
pada mereka dan mereka akan menangis haru.
Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita
saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan. Kata-katanya
memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk
hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu
bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik
masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40
pound.
Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di
emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam
kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin
kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa
uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.
Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak
50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya
yang murah. Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami
disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah,
kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali
cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah
SWT.
Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil
menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah.
Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang
sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan
rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah
kontrakan kami.
Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika
seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai
mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang
membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan
dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja
untuk 3 bulan.
Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami
pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari
sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua
kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari
tanah, itu saja... tak lebih.
Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap
bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan
melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia
adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia
merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.
Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya
persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah
untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di
surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih
nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan.
Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada
penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua
penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT.
Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an dan
Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak
memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini, kami
menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya. Istri saya jadi
rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat
malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah Adawiyah yang larut
dalam samudra munajat kepada Tuhan.
Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas
kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia
bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT.
Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa
sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk
makan dan transportasi selama sebulan.
Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan
kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan
derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada
yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya
semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan
isterinya."
Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa
kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil
layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar
menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang
dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang
membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolonganpertolongan
mereka.
Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang
kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak
terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih
menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.
Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami
digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak
segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan,
begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka
robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar.
Lalu mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena
berani menentang Tuan Pasha."
Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala
itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami
berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun
kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi
kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami
jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku
yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki.
Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah
eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang
meringankan intimidasi hidup ini.
Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup
tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah
merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan
wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di
negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada
di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah
mendengar hal itu.
Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak
mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku
berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya
agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak
menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan
saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.
Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta
beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku.
Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah
turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa
mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.
Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu
tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya
takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6
pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang
sangat saya cintai.
Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan
keselamatan isteri tercinta. Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah
yang menjaga keselamatan hamba-hamba-Nya yang beriman. Isteri saya
hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik
kesehatan dekat rumah kami.
Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah
SWT. Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu
kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan
keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih
bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat
puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan
pendamping setia & lepas dari belenggu derita:
/Sambil menatap kaki langit/
/Kukatakan kepadanya/
/Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring/
/Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba/
/Bukan karna ketiadaan kata-kata/
/Tapi karena kupu-kupu kelelahan/
/Akan tidur di atas bibir kita/
/Besok, oh cintaku... besok/
/Kita akan bangun pagi sekali/
/Dengan para pelaut dan perahu layar mereka/
/Dan akan terbang bersama angin/
/Seperti burung-burung/
Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari
nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun
dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk
program Magister bersama!
"Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah saat paling
tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter
di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan.
Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab
logika yang saya tolak, "Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita
dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan
biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta
dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak
sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi
akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita."
Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau
ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun
luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan
kekuatan jiwanya. Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan
mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan
pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk
praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya
dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal
pernikahan kami.
Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami
adalah air keran. Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami
belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak
terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah.
Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.
Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu,
terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan. Meski demikian melaratnya, kami
merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun.
Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun
marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena
menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia
kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah,
tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.
Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya
hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah
kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya. Timbal balik perasaan ini
ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri
kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta
yang mendalam padanya.
Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya
adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya
dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia
akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta
dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan
semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.
"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra
sambil tersenyum. Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.
Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar
Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami
belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih
hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam
hidup kami.
Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami
berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan
untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami
mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah,
merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan
lezat.
Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis,
Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki
rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia kembali mengeluarkan
ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London,
juga dengan logika yang sulit saya tolak: "Kita dokter yang berprestasi. Harihari
penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup
untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di
lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi
sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah
menyediakan dana tambahan."
Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London.
Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar
Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung.
Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja
baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat
sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga
mengajar di Universitas.
satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah
SWT. Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu
kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan
keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih
bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat
puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan
pendamping setia & lepas dari belenggu derita:
/Sambil menatap kaki langit/
/Kukatakan kepadanya/
/Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring/
/Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba/
/Bukan karna ketiadaan kata-kata/
/Tapi karena kupu-kupu kelelahan/
/Akan tidur di atas bibir kita/
/Besok, oh cintaku... besok/
/Kita akan bangun pagi sekali/
/Dengan para pelaut dan perahu layar mereka/
/Dan akan terbang bersama angin/
/Seperti burung-burung/
Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari
nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun
dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk
program Magister bersama!
"Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah saat paling
tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter
di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan.
Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab
logika yang saya tolak, "Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita
dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan
biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta
dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak
sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi
akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita."
Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau
ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun
luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan
kekuatan jiwanya. Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan
mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan
pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk
praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya
dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal
pernikahan kami.
Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami
adalah air keran. Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami
belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak
terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah.
Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.
Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu,
terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan. Meski demikian melaratnya, kami
merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun.
Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun
marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena
menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia
kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah,
tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.
Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya
hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah
kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya. Timbal balik perasaan ini
ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri
kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta
yang mendalam padanya.
Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya
adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya
dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia
akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta
dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan
semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.
"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra
sambil tersenyum. Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.
Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar
Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami
belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih
hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam
hidup kami.
Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami
berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan
untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami
mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah,
merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan
lezat.
Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis,
Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki
rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia kembali mengeluarkan
ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London,
juga dengan logika yang sulit saya tolak: "Kita dokter yang berprestasi. Harihari
penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup
untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di
lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi
sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah
menyediakan dana tambahan."
Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London.
Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar
Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung.
Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja
baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat
sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga
mengajar di Universitas.
Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia
dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan
duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan. Lima tahun setelah itu,
kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji
di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang
dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan
kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.
Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah
swt dan bertambahlan rasa cinta kami. Ini kisah nyata yang saya sampaikan
sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri salehah yang saya
cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak
pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah
wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di
sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang
mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr
Shiddiqa binti Abdul Aziz..."
Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok
perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan
itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda
Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan
segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.
Nikmati Hidup Di Dalam Perbedaan Karena Aneka Perbedaan Membuat Kehidupan Semakin Indah Bagi Yang Menerima Perbedaan Sebagai Rahmah
Penderitaan Mereka adalah Inspirasi Hidayah
Oleh: M. Syamsi Ali
Dua minggu lalu, selepas jum’at saya menemukan secarik kerta di atas meja kantor saya di Islamic Cultural Center of New York. Isinya kira-kira berbunyi ‘I have been trying to reach you but never had a good luck! Would you please call me back? Karen’.
Berhubung karena berbagai kesibukan lainnya, saya menunda menelpon balik Karen higga dua hari lalu. ‘Oh….thank you so much for getting back to me!’, jawabnya ketika saya perkenalkan diri dari Islamic Center of New York. ‘I am really sorry for delaying to call you back’, kata saya, sambil menanyakan siapa dan apa latar belakang sang penelpon.
‘Hi, I am sorry! My name is Karen Henderson, and I am a professor at the NYU (New York University)’, katanya.
‘And so what I can do for you?’ tanyaku. Dia kemudian menanyakan jika saya ada beberapa menit untuk berbicara lewat telpon. ‘Yes, certainly I have, just for you, professor!’ candaku. ‘Oh.. that is so kind of you!’, jawabnya.
Karen kemudian bercerita panjang mengenai dirinya, latar belakang keluarganya, profesinya, dan bahkan status sosialnya.
‘I am a professor teaching sociology at the New York University’, demikian dia memulai. Namun menurutnya lagi, sebagai sosiolog, dia tidak saja mengajar di universitas tapi juga melakukan berbagai penelitian di berbagai tempat, termasuk luar negeri. Karen sudah pernah mengunjungi banyak negara untuk tujuan penelitiannya, termasuk dua negara yang justeru disebutnya sebagai sumber inspirasi. Yaitu Pakistan dan Afghanistan.
‘I spent more than 3 years in those countries, and mostly in villages’, katanya. ‘During those three years, I have a lot memories about the people. They are simply amazing’, lanjutnya.
Tidak terasa Karen berbicara di telpon hampir 20 menit. Sementara saya hanya mendengarkan dengan serius dan tanpa menyela sekalipun. Selain karena cara Karen berbicara sangat menarik, informative dan disampaikan dalam bahasa yang jelas, saya menjadi lebih tertarik mendengar. Mungkin karena dia adalah seorang professor, jadi dalam berbicara dia sangat sistimatis dan eloquent.
‘Karen, that is a very interesting story. I am sure what you did experience in Pakistan I did as well. I lived in Pakistan 7 years, and had an opportunity to visit many of those areas you did mention’, kataku.
‘But what did you want to tell me out this story?’, tanyaku lagi
Nampaknya Karena menarik napas, lalu menjawab. Tapi kali ini dengan suara lembut dan agak lamban. ‘Sir, I wanted to know further Islam, the religion of those people. They are sweet people, and I think I have inspired by them in many ways’, katanya.
Tapi karena waktu yang tidak terlalu mengizinkan untuk saya banyak berbicara lewat telpon, saya meminta Karen untuk datang ke Islamic Center keesokan harinya (Sabtu lalu). Diapun menyetujui dan disepakatilah pukul 1:30 siang, persis jam ketika saya mengajar di kelas khusus non Muslim, Islamic Forum for non Muslims.
Keesokan harinya, Sabtu, saya tiba agak telat. Sekitar pukul 12 siang saya tiba, dan pihak security menyampaikan bahwa dari tadi ada seorang wanita menunggu saya. ‘She is the mosque’ (maksudnya di ruang shalat wanita). Saya segera meminta security untuk memanggil wanita tersebut ke kantor untuk menemui saya.
Tak lama kemudian datangnya seorang wanita dengan pakaian ala Asia Selatan (India Pakistan). Sepasang shalwar dan Gamiz, lengkap dengan penutup kepala ala kerudung Benazir Bhutto. ‘Hi, sorry for coming earlier! I can wait at the mosque, if you are still busy with other things’, kata wanita baya umur 40-an tahun itu. Dia jelas Amerika berkulit putih, kemungkinan keturunan Jerman.
‘Not at all, professor! I am free for you’, jawabku sambil tersenyum. ‘Have your seat, but let me go around the school for five minutes’, mintaku untuk sekedar melihat-lihat weekend school program hari itu.
Setelah selesai melihat-lihat beberapa kelas pada hari itu, saya kembali ke kantor. ‘I am sorry Professor!’, sapaku. ‘Please do call me by name, Karen!’, pintanya sambil tersenyum. ‘You know, I like to address people respectfully, and I really did not know how to address you’, kataku. ‘In some countries, people love to be known with their professional title. But I know Americans are not’, lanjutku sambil ketawa kecil.
Kita kemudian hanyut dalam pembicaraan dalam berbagai hal, mulai dari isu hangat tentang kartun Nabi Muhammad SAW di sebuah komedi kartun Amerika, hingga kepada asal usul Karen itu sendiri. ‘I am a Jew by birth. My Parents are Jews, but you know, especially my father, he doesn’t believe in the religion any more’, katanya. Bahkan menurutnya, ayahnya itu seringkali menilai konsep tuhan sebagai sekedar alat repression (menekan) sepanjang sejarah manusia.
Namun menurut Karen, walaupun tidak percaya agama dan mengaku tidak percaya tuhan, ayahnya masih juga merayakan hari-hari besar Yahudi, seperti Hanukkah, Sabbath, dll. ‘These celebrations, as most Jews do, are no more than heritage traditions’, jelasnya. ‘Judaism is think not a religion, in the sense that it is more about culture and family’, sambungnya lagi.
Dalam hatiku saya mengatakan bahwa semua itu bukan baru bagi saya. Sekitar 60 persen atau lebih Yahudi di Amerika Serikat adalah dari kalangan sekte ‘Reform’ (Pembaharu). Mereka ini ternyata telah melakukan reformasi mendasar dalam agama mereka, termasuk dalam hal-hal akidah atau keyakinan. Sekte Reform misalnya sama sekali tidak percaya lagi kepada kehidupan akhirat. Saya masih teringat dalam sebuah diskusi di gereja Marble Collegiate tahun lalu tentang konsep kehidupan. Pembicaranya adalah saya dan seorang Pastor dan Rabbi dari Central Synagogue Manhattan. Ketika kita telah sampai kepada isu hari Akhirat, Rabbi tersebut mengaku tidak percaya.
Tiba-tiba salah seorang hadirin yang juga murid muallaf saya keturunan Rusia berdiri dan bertanya ‘And so, if you don’t believe in the life after death, why you have to go to your synagogue, worship, wearing yarmukka, giving charity, etc.? Why do you think it is necessary to be honest, be helpful to others? And why we have to avoid things we must avoid?’, tanyanya panjang lebar.
Sang Rabbi hanya tersenyum dan menjawab singkat ‘we do all those because that what we have to be and do’.
Mendengar jawaban sang Rabbi, semua hadirin hanya tersenyum, dan bahkan banyak yang tertawa.
Kembali ke Karen, kita kemudian hanyut dalam dialog tentang konsep kebahagiaan. Menurutnya, sebagai seorang sosiolog, dia telah melakukan banyak penelitian dalam berbagai hal yang berkaitan dengan bidangnya. Pernah ke Amerika Latin, Afrika, beberapa negara Eropa, dan juga Asia, termasuk Asia Selatan. ‘But one thing I have to tell, those Pakistanis and Afghanis are simply amazing people’, katanya. ‘What really amazed about them?’ tanyaku.
‘Many, their religiosity and commitment to the religion, among others. But I think the most amazing about them is their strength and enduring in nature in their daily life’, katanya panjang lebar. ‘I am amazed how these people are so strong and looking happy despite the very challenging life that they are in’, jelasnya lagi.
Saya tidak pernah menyangka kalau Karen tiba-tiba meneteskan airmata di tengah-tengah pembicaraan kami. Dia seorang professor yang senior, walau masih belia dalam umur. Tapi juga pengalamannya yang luar biasa, menjadikan saya lebih banyak mendengar. Di tengah-tengah membicarakan ‘kesulitan hidup’ orang-orang Afghanistan dan Pakistan, khususnya di daerah pegunungan-pegunungan, dia meneteskan airmata tapi sambil melemparkan senyum. ‘I am sorry, I am very emotional with this story?’, katanya.
Segera saya ambil kendali. Saya bercerita tentang konsep kebahagiaan menurut ajaran Islam. Bahkan berbicara panjang lebar tentang kehidupan dunia sementara, dan bagaimana Islam mengajarkan kehidupan akhirat itu sendiri. ‘No matter how do you live your life here, it is temporary and unfulfilling. There must be some where, sometime where we will live eternally and all dreams and wishes will be fulfilled’, jelasku. ‘This belief gives us an immense strength and determination to live our lives at fullest, no matter how circumstances may surround that life itself’.
Tanpa terasa adzan Dhuhr dikumandangkan. Saya pun segera berhenti berbicara. Nampaknya Karen paham bahwa ketika adzan didengarkan maka kita seharusnya mendengarkan dan menjawab. Mungkin dia sendiri tidak paham apa yang seharusnya diucapkan, tapi dia tersenyum ketika saya meminta maaf berhenti berbicara.
Setelah adzan saya melanjutkan sedikit, lalu saya tanya kepada Karen. ‘And so, what really makes you calling me the other day?’
‘I want to tell you that my mind constantly remember those people. My memory reminds me about how they happy are, while we Americans with all this fancy life, lacking of happiness..!’, katanya seolah marah.
‘And so what makes you contacting me? I mean why do you have to come and discuss with me?’ pancingku lagi.
Karen merubah posisi duduknya, tapi nampak sangat serius lalu berkata ‘I’ve thought this for long time. But I really don’t know what to do and how to proceed it. I wanted to become a Muslim!’, katanya mantap.
Saya segera menjelaskan bahwa untuk menjadi Muslim itu sebenarnya sangat mudah. Yang susah adalah proses menemukan hidayah. Jadi nampaknya anda sudah melalui prose situ, dan kini sudah menuju kepada jenjang akhir. ‘My question to you is are you really convinced that this is the religion that you believe to be the Truth?’, kataku lagi.
‘Yes, certainly no doubt!’, jawabnya tegas.
Saya segera memanggil salah seorang guru weekend school wanita untuk mengajarkan kepada Karen mengambil wudhu. Ternyata dia sudah bias wudhu dan shalat, hanya belum hafal bacaan-bacaan shalat tersebut.
Selepas shalat Dhuhur, Karen saya tuntun melafalkan ‘Ash-hadu an laa ilaaha illa Allah wa ash-hadu anna Muhammadan Rasul Allah’, dengan penuh khusyu’ dan diikuti pekikan takbir ratusan jama’ah yang hadir.
Hanya doa yang menyertai semoga Karen Henderson dijaga dan dikuatkan dalam iman, tumbuh menjadi pejuang Islam di bidangnya sebagai professor ilmi-ilmu social di salah satu universitas bergengsi di AS. Amin!
New York, 26 April 2010
_____________________________________________________________________________
Syamsi Ali adalah dai kondang di Amerika Serikat. Kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada 5 Oktober 1967. Menjadi imam masjid Islamic Center, masjid terbesar di New York. Ia juga menjadi imam di Masjid Al-Hikmah, masjid milik komunitas Islam asal Indonesia
Ia pernah tampil sepanggung dengan mantan Presiden AS Bill Clinton, ratu talk show Oprah Winfrey, dan Gubernur Negara Bagian New York George Pataki dalam sebuah acara bertajuk “A Prayer for America”.
Acara ini dihadiri oleh 50 ribu orang dari berbagai ras, warna kulit, dan agama. Syamsi mengutip surat Al-Hujarat ayat 13, tentang asal-usul manusia yang diciptakan Tuhan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Tidak ada yang lebih mulia, kecuali mereka yang bertakwa. Syamsi ingin mengatakan kepada public Amerika bahwa Islam adalah agama yang mengakui persauadaraan manusia.
Dua minggu lalu, selepas jum’at saya menemukan secarik kerta di atas meja kantor saya di Islamic Cultural Center of New York. Isinya kira-kira berbunyi ‘I have been trying to reach you but never had a good luck! Would you please call me back? Karen’.
Berhubung karena berbagai kesibukan lainnya, saya menunda menelpon balik Karen higga dua hari lalu. ‘Oh….thank you so much for getting back to me!’, jawabnya ketika saya perkenalkan diri dari Islamic Center of New York. ‘I am really sorry for delaying to call you back’, kata saya, sambil menanyakan siapa dan apa latar belakang sang penelpon.
‘Hi, I am sorry! My name is Karen Henderson, and I am a professor at the NYU (New York University)’, katanya.
‘And so what I can do for you?’ tanyaku. Dia kemudian menanyakan jika saya ada beberapa menit untuk berbicara lewat telpon. ‘Yes, certainly I have, just for you, professor!’ candaku. ‘Oh.. that is so kind of you!’, jawabnya.
Karen kemudian bercerita panjang mengenai dirinya, latar belakang keluarganya, profesinya, dan bahkan status sosialnya.
‘I am a professor teaching sociology at the New York University’, demikian dia memulai. Namun menurutnya lagi, sebagai sosiolog, dia tidak saja mengajar di universitas tapi juga melakukan berbagai penelitian di berbagai tempat, termasuk luar negeri. Karen sudah pernah mengunjungi banyak negara untuk tujuan penelitiannya, termasuk dua negara yang justeru disebutnya sebagai sumber inspirasi. Yaitu Pakistan dan Afghanistan.
‘I spent more than 3 years in those countries, and mostly in villages’, katanya. ‘During those three years, I have a lot memories about the people. They are simply amazing’, lanjutnya.
Tidak terasa Karen berbicara di telpon hampir 20 menit. Sementara saya hanya mendengarkan dengan serius dan tanpa menyela sekalipun. Selain karena cara Karen berbicara sangat menarik, informative dan disampaikan dalam bahasa yang jelas, saya menjadi lebih tertarik mendengar. Mungkin karena dia adalah seorang professor, jadi dalam berbicara dia sangat sistimatis dan eloquent.
‘Karen, that is a very interesting story. I am sure what you did experience in Pakistan I did as well. I lived in Pakistan 7 years, and had an opportunity to visit many of those areas you did mention’, kataku.
‘But what did you want to tell me out this story?’, tanyaku lagi
Nampaknya Karena menarik napas, lalu menjawab. Tapi kali ini dengan suara lembut dan agak lamban. ‘Sir, I wanted to know further Islam, the religion of those people. They are sweet people, and I think I have inspired by them in many ways’, katanya.
Tapi karena waktu yang tidak terlalu mengizinkan untuk saya banyak berbicara lewat telpon, saya meminta Karen untuk datang ke Islamic Center keesokan harinya (Sabtu lalu). Diapun menyetujui dan disepakatilah pukul 1:30 siang, persis jam ketika saya mengajar di kelas khusus non Muslim, Islamic Forum for non Muslims.
Keesokan harinya, Sabtu, saya tiba agak telat. Sekitar pukul 12 siang saya tiba, dan pihak security menyampaikan bahwa dari tadi ada seorang wanita menunggu saya. ‘She is the mosque’ (maksudnya di ruang shalat wanita). Saya segera meminta security untuk memanggil wanita tersebut ke kantor untuk menemui saya.
Tak lama kemudian datangnya seorang wanita dengan pakaian ala Asia Selatan (India Pakistan). Sepasang shalwar dan Gamiz, lengkap dengan penutup kepala ala kerudung Benazir Bhutto. ‘Hi, sorry for coming earlier! I can wait at the mosque, if you are still busy with other things’, kata wanita baya umur 40-an tahun itu. Dia jelas Amerika berkulit putih, kemungkinan keturunan Jerman.
‘Not at all, professor! I am free for you’, jawabku sambil tersenyum. ‘Have your seat, but let me go around the school for five minutes’, mintaku untuk sekedar melihat-lihat weekend school program hari itu.
Setelah selesai melihat-lihat beberapa kelas pada hari itu, saya kembali ke kantor. ‘I am sorry Professor!’, sapaku. ‘Please do call me by name, Karen!’, pintanya sambil tersenyum. ‘You know, I like to address people respectfully, and I really did not know how to address you’, kataku. ‘In some countries, people love to be known with their professional title. But I know Americans are not’, lanjutku sambil ketawa kecil.
Kita kemudian hanyut dalam pembicaraan dalam berbagai hal, mulai dari isu hangat tentang kartun Nabi Muhammad SAW di sebuah komedi kartun Amerika, hingga kepada asal usul Karen itu sendiri. ‘I am a Jew by birth. My Parents are Jews, but you know, especially my father, he doesn’t believe in the religion any more’, katanya. Bahkan menurutnya, ayahnya itu seringkali menilai konsep tuhan sebagai sekedar alat repression (menekan) sepanjang sejarah manusia.
Namun menurut Karen, walaupun tidak percaya agama dan mengaku tidak percaya tuhan, ayahnya masih juga merayakan hari-hari besar Yahudi, seperti Hanukkah, Sabbath, dll. ‘These celebrations, as most Jews do, are no more than heritage traditions’, jelasnya. ‘Judaism is think not a religion, in the sense that it is more about culture and family’, sambungnya lagi.
Dalam hatiku saya mengatakan bahwa semua itu bukan baru bagi saya. Sekitar 60 persen atau lebih Yahudi di Amerika Serikat adalah dari kalangan sekte ‘Reform’ (Pembaharu). Mereka ini ternyata telah melakukan reformasi mendasar dalam agama mereka, termasuk dalam hal-hal akidah atau keyakinan. Sekte Reform misalnya sama sekali tidak percaya lagi kepada kehidupan akhirat. Saya masih teringat dalam sebuah diskusi di gereja Marble Collegiate tahun lalu tentang konsep kehidupan. Pembicaranya adalah saya dan seorang Pastor dan Rabbi dari Central Synagogue Manhattan. Ketika kita telah sampai kepada isu hari Akhirat, Rabbi tersebut mengaku tidak percaya.
Tiba-tiba salah seorang hadirin yang juga murid muallaf saya keturunan Rusia berdiri dan bertanya ‘And so, if you don’t believe in the life after death, why you have to go to your synagogue, worship, wearing yarmukka, giving charity, etc.? Why do you think it is necessary to be honest, be helpful to others? And why we have to avoid things we must avoid?’, tanyanya panjang lebar.
Sang Rabbi hanya tersenyum dan menjawab singkat ‘we do all those because that what we have to be and do’.
Mendengar jawaban sang Rabbi, semua hadirin hanya tersenyum, dan bahkan banyak yang tertawa.
Kembali ke Karen, kita kemudian hanyut dalam dialog tentang konsep kebahagiaan. Menurutnya, sebagai seorang sosiolog, dia telah melakukan banyak penelitian dalam berbagai hal yang berkaitan dengan bidangnya. Pernah ke Amerika Latin, Afrika, beberapa negara Eropa, dan juga Asia, termasuk Asia Selatan. ‘But one thing I have to tell, those Pakistanis and Afghanis are simply amazing people’, katanya. ‘What really amazed about them?’ tanyaku.
‘Many, their religiosity and commitment to the religion, among others. But I think the most amazing about them is their strength and enduring in nature in their daily life’, katanya panjang lebar. ‘I am amazed how these people are so strong and looking happy despite the very challenging life that they are in’, jelasnya lagi.
Saya tidak pernah menyangka kalau Karen tiba-tiba meneteskan airmata di tengah-tengah pembicaraan kami. Dia seorang professor yang senior, walau masih belia dalam umur. Tapi juga pengalamannya yang luar biasa, menjadikan saya lebih banyak mendengar. Di tengah-tengah membicarakan ‘kesulitan hidup’ orang-orang Afghanistan dan Pakistan, khususnya di daerah pegunungan-pegunungan, dia meneteskan airmata tapi sambil melemparkan senyum. ‘I am sorry, I am very emotional with this story?’, katanya.
Segera saya ambil kendali. Saya bercerita tentang konsep kebahagiaan menurut ajaran Islam. Bahkan berbicara panjang lebar tentang kehidupan dunia sementara, dan bagaimana Islam mengajarkan kehidupan akhirat itu sendiri. ‘No matter how do you live your life here, it is temporary and unfulfilling. There must be some where, sometime where we will live eternally and all dreams and wishes will be fulfilled’, jelasku. ‘This belief gives us an immense strength and determination to live our lives at fullest, no matter how circumstances may surround that life itself’.
Tanpa terasa adzan Dhuhr dikumandangkan. Saya pun segera berhenti berbicara. Nampaknya Karen paham bahwa ketika adzan didengarkan maka kita seharusnya mendengarkan dan menjawab. Mungkin dia sendiri tidak paham apa yang seharusnya diucapkan, tapi dia tersenyum ketika saya meminta maaf berhenti berbicara.
Setelah adzan saya melanjutkan sedikit, lalu saya tanya kepada Karen. ‘And so, what really makes you calling me the other day?’
‘I want to tell you that my mind constantly remember those people. My memory reminds me about how they happy are, while we Americans with all this fancy life, lacking of happiness..!’, katanya seolah marah.
‘And so what makes you contacting me? I mean why do you have to come and discuss with me?’ pancingku lagi.
Karen merubah posisi duduknya, tapi nampak sangat serius lalu berkata ‘I’ve thought this for long time. But I really don’t know what to do and how to proceed it. I wanted to become a Muslim!’, katanya mantap.
Saya segera menjelaskan bahwa untuk menjadi Muslim itu sebenarnya sangat mudah. Yang susah adalah proses menemukan hidayah. Jadi nampaknya anda sudah melalui prose situ, dan kini sudah menuju kepada jenjang akhir. ‘My question to you is are you really convinced that this is the religion that you believe to be the Truth?’, kataku lagi.
‘Yes, certainly no doubt!’, jawabnya tegas.
Saya segera memanggil salah seorang guru weekend school wanita untuk mengajarkan kepada Karen mengambil wudhu. Ternyata dia sudah bias wudhu dan shalat, hanya belum hafal bacaan-bacaan shalat tersebut.
Selepas shalat Dhuhur, Karen saya tuntun melafalkan ‘Ash-hadu an laa ilaaha illa Allah wa ash-hadu anna Muhammadan Rasul Allah’, dengan penuh khusyu’ dan diikuti pekikan takbir ratusan jama’ah yang hadir.
Hanya doa yang menyertai semoga Karen Henderson dijaga dan dikuatkan dalam iman, tumbuh menjadi pejuang Islam di bidangnya sebagai professor ilmi-ilmu social di salah satu universitas bergengsi di AS. Amin!
New York, 26 April 2010
_____________________________________________________________________________
Syamsi Ali adalah dai kondang di Amerika Serikat. Kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada 5 Oktober 1967. Menjadi imam masjid Islamic Center, masjid terbesar di New York. Ia juga menjadi imam di Masjid Al-Hikmah, masjid milik komunitas Islam asal Indonesia
Ia pernah tampil sepanggung dengan mantan Presiden AS Bill Clinton, ratu talk show Oprah Winfrey, dan Gubernur Negara Bagian New York George Pataki dalam sebuah acara bertajuk “A Prayer for America”.
Acara ini dihadiri oleh 50 ribu orang dari berbagai ras, warna kulit, dan agama. Syamsi mengutip surat Al-Hujarat ayat 13, tentang asal-usul manusia yang diciptakan Tuhan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Tidak ada yang lebih mulia, kecuali mereka yang bertakwa. Syamsi ingin mengatakan kepada public Amerika bahwa Islam adalah agama yang mengakui persauadaraan manusia.
Ayat Al Qur'an Pada Kromossom Manusia
Seorang ilmuwan yang penemuanya sehebat galileo,Newton dan Einstein yang berhasil membuktikan tentang keterkaitan antara Al_Quran dan Rancangan struktur tubuh manusia adalah Dr.Ahmad Khan. Beliau adalah lulusan Summa Cumlaude dari Duke University.
Walaupun Beliau ilmuwan muda yang sedang menanjak, terlihat cintanya hanya untuk Allah dan penelitian genetiknya. Ruang kerjanya yang banyak di hiasi kaligrafi, kertas kertas penghargaan, tumpukan buku buku kumal dan kitab suci yang sering di bukanya. menunjukkan bahwa beliau merupakan kombinasi dari ilmuwan dan pecinta kitab suci.
Salah satu penemuanya yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan adalah ditemukanya informasi lain selain konstruksi polipeptida yang dibangun dari kodon DNA. Ayat pertama yang mendorong penelitanya adalah surat "Fussilat" ayat 53 yang juga di kuatkan dengan hasil hasil penemuan Profesor Keith Moore ahli embrio dari Kanada.
Penemuan beliau di ilhami ketika Khatib pada waktu sholat Jum'at membacakan salah satu ayat yang ada kaitanya dengan ilmu biologi.
Bunyi ayat tersebut adalah sebagai beruikut "...Sanuriihim ayatinaa filaafaqi wa fi anfusihim hatta yatabayyana lahum annahu ul-haqq...." Yang artinya : "Kemudian akan Kami tunjukkan tanda tanda kekuasaan kami pada alam dan pada diri mereka, sampai jelas bagi mereka ini adalah kebenaran".
Hipotesis awal yang di ajukan Dr. Ahmad Khan adalah kata " ayatinna" yang memiliki makna " ayat Allah", di jelaskan oleh Allah bahwa tanda tanda kekuasaanNya ada juga dalam diri manusia.
Menurut Ahmad Khan ayat ayat Allah ada juga dalam DNA manusia.
Selanjutnya beliau beranggapan bahwa ada kemungkinan ayat Al Quran merupakan bagian dari gen manusia. Dalam dunia biologi dan genetika dikenal banyak DNA yang hadir tanpa memproduksi protein sama sekali. Area tanpa produksi ini disebut Junk DNA atau DNA sampah.
Kenyataanya DNA tersebut menurut beliau jauh sekali dari makna sampah. Menurut hasil risetnya, Junk DNA tersebut merupakan untaian firman-firman Allah sebagai pencipta serta sebagai tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir.
Sebagai di sindir oleh Allah : " Afala Tafakaruun" yang artinya "Apakah kalian tidak bertafakur atau menggunakan akala pikiran?".
Setelah bekerja sama dengan adik beliau yang bernama imran, seorang yang ahli dalam bidang analis sistem, laboratorium genetiknya mendapatkan proyek pemerintah. Program tersebut awalnya di tujukan untuk meneliti gen kecerdasan pada manusia. Dengan kerja kerasnya beliau berupaya untuk menemukan huruf arab yang mungkin di bentuk oleh rantai Kodon pada kromosom manusia. Sampai kombinasi tersebut menghasilkan ayat ayat Al Qur'an. Akhirnya pada tanggal 2 januari 1999 pukul 2 pagi, beliau menemukan ayat yang pertama "Bismillah hirrahmanirahiim"
"Iqra bismirrabbika ladzi Khalaq" yang artinya "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan".
Ayat tersebut adalah awal dari surat Al-A'laq yang merupakan surat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Anehnya setelah penemuan ayat pertama tersebut ayat lain muncul satu persatu secara cepat.
Sampai sekang beliau telah menemukan 1/10 ayat Al-Qur'an.
Dr. Ahmad Khan kemudian menghimpun penemuan-penemuanya dalam beberapa lembar kertas yang banyak memuat kode-kode genetika rantai kodon pada cromossome manusia yaitu : T,C,G, dan A masing masing kode Nucleotida akan menghasilkan huruf Arab yang apabila di rangkai akan menjadi firman Allah yang sangat mengagumkan.
Dalam wawancaranya Dr. Ahmad Khan berpesan " Semoga penerbitan buku saya "Al Qur'an dan genetik", semakin menyadarkan umat islam, bahwa islam adalah jalan hidup yang lengkap".
Kita tidak bisa memisahkan ilmu agama dari politik, pendidikan atau seni. Semoga non muslim menyadari bahwa tidak ada gunanya mempertentangkan ilmu dengan agama.
Walaupun Beliau ilmuwan muda yang sedang menanjak, terlihat cintanya hanya untuk Allah dan penelitian genetiknya. Ruang kerjanya yang banyak di hiasi kaligrafi, kertas kertas penghargaan, tumpukan buku buku kumal dan kitab suci yang sering di bukanya. menunjukkan bahwa beliau merupakan kombinasi dari ilmuwan dan pecinta kitab suci.
Salah satu penemuanya yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan adalah ditemukanya informasi lain selain konstruksi polipeptida yang dibangun dari kodon DNA. Ayat pertama yang mendorong penelitanya adalah surat "Fussilat" ayat 53 yang juga di kuatkan dengan hasil hasil penemuan Profesor Keith Moore ahli embrio dari Kanada.
Penemuan beliau di ilhami ketika Khatib pada waktu sholat Jum'at membacakan salah satu ayat yang ada kaitanya dengan ilmu biologi.
Bunyi ayat tersebut adalah sebagai beruikut "...Sanuriihim ayatinaa filaafaqi wa fi anfusihim hatta yatabayyana lahum annahu ul-haqq...." Yang artinya : "Kemudian akan Kami tunjukkan tanda tanda kekuasaan kami pada alam dan pada diri mereka, sampai jelas bagi mereka ini adalah kebenaran".
Hipotesis awal yang di ajukan Dr. Ahmad Khan adalah kata " ayatinna" yang memiliki makna " ayat Allah", di jelaskan oleh Allah bahwa tanda tanda kekuasaanNya ada juga dalam diri manusia.
Menurut Ahmad Khan ayat ayat Allah ada juga dalam DNA manusia.
Selanjutnya beliau beranggapan bahwa ada kemungkinan ayat Al Quran merupakan bagian dari gen manusia. Dalam dunia biologi dan genetika dikenal banyak DNA yang hadir tanpa memproduksi protein sama sekali. Area tanpa produksi ini disebut Junk DNA atau DNA sampah.
Kenyataanya DNA tersebut menurut beliau jauh sekali dari makna sampah. Menurut hasil risetnya, Junk DNA tersebut merupakan untaian firman-firman Allah sebagai pencipta serta sebagai tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir.
Sebagai di sindir oleh Allah : " Afala Tafakaruun" yang artinya "Apakah kalian tidak bertafakur atau menggunakan akala pikiran?".
Setelah bekerja sama dengan adik beliau yang bernama imran, seorang yang ahli dalam bidang analis sistem, laboratorium genetiknya mendapatkan proyek pemerintah. Program tersebut awalnya di tujukan untuk meneliti gen kecerdasan pada manusia. Dengan kerja kerasnya beliau berupaya untuk menemukan huruf arab yang mungkin di bentuk oleh rantai Kodon pada kromosom manusia. Sampai kombinasi tersebut menghasilkan ayat ayat Al Qur'an. Akhirnya pada tanggal 2 januari 1999 pukul 2 pagi, beliau menemukan ayat yang pertama "Bismillah hirrahmanirahiim"
"Iqra bismirrabbika ladzi Khalaq" yang artinya "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan".
Ayat tersebut adalah awal dari surat Al-A'laq yang merupakan surat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Anehnya setelah penemuan ayat pertama tersebut ayat lain muncul satu persatu secara cepat.
Sampai sekang beliau telah menemukan 1/10 ayat Al-Qur'an.
Dr. Ahmad Khan kemudian menghimpun penemuan-penemuanya dalam beberapa lembar kertas yang banyak memuat kode-kode genetika rantai kodon pada cromossome manusia yaitu : T,C,G, dan A masing masing kode Nucleotida akan menghasilkan huruf Arab yang apabila di rangkai akan menjadi firman Allah yang sangat mengagumkan.
Dalam wawancaranya Dr. Ahmad Khan berpesan " Semoga penerbitan buku saya "Al Qur'an dan genetik", semakin menyadarkan umat islam, bahwa islam adalah jalan hidup yang lengkap".
Kita tidak bisa memisahkan ilmu agama dari politik, pendidikan atau seni. Semoga non muslim menyadari bahwa tidak ada gunanya mempertentangkan ilmu dengan agama.
Air Ternyata dapat Merespon pesan
![]() |
| Dr. Masaru Emoto |
Keajaiban Air
Penemuan oleh Dr. Masaru Emoto sungguh sangat menakjubkan. Beliau membuktikan bahwa susunan molekul molekul air boleh merubah mengikuit apa yang di ucapkan keatas air tersebut.
Dalam seminar di tunjukkkan melalui slaid, contoh contoh air yang dilihat dari pada mikroskop khas. sumber air diambil dari laut, sungai, empangan, perigi dan sebagainya. Ada berbagai bentuk dan rupa yang cantuk bercahaya seolah-olah seperti berlian dan ada juga dengan bentuk yang jelek, mengerikan "serupa dengan jin bertelinga besar, bertanduk dst."
Suatu ketika bila ditunjukkkan "rupa air yang cantik dan bercahaya" molekul molekul tersusun secara apik, seperti berlian bersegi segi, bersinar, berwarna warni melebihi 12 warna, dan para hadirin telah di tanya apakah gerangan air apakah itu?
salah seorang hadirin menerka bahwa itu mungkin Zam- Zam(air yang di sucikan oleh umat muslim) dan ternyata memanglah air Zam-Zam yang di buat sample tersebut. Kemudian para hadirin dipilih untuk membuat kajian dia atas pentas percobaan dan di suruh membaca apa saja kearah air mineral masing masing. Lalu salah seorang hadirin disuruh menunjukkan hasilnya. Apa bila dilihat dari screen monitor akan terlihat molekul molekul air itu membentuk seperti tokong cina, dengan janggut yang panjang dan perut yang buncit.
Apabila tiba giliran Ustadz Abdullah(, air tersebut di bacakan surah Al-Fatihah, Solawat dan Ayat Kursi, dan di liahat di screen monitor kelihatan molekul seperti berkilau cantik dan bercahaya.
Kemudian beliau di suruh membaca ayat atau kata kata yang tidak bagus dan dilihat di screen monitor berubahlah menjadi sel sel yang kelihatan seperti bara api.
Banyak hadit dan ayat Al-Quran, yang menceritakan fenomena ini. Air juga makluk Allah yang bernyawa.dan dengan ijin Allah ia mampu menyembuhkan dan memudaratkan seseorang karena dalam islam ada kaedah kaedah tertentu yang mengunakan air untuk berikhtiar mengobati penyakit. Salah satunya dengan jampi seperti yang pernah di amalkan Rosulullah, dan di ikuti ulama ulama islam lainya
TAHUKAH KAMU APA MALAM KEMULIAAN ITU ??
Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah karena adanya ‘malam yang lebih baik dari seribu bulan’. Tradisi Islam, menceritakan peristiwa ini berulang kali terjadi pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan, dan biasanya pada malam yang ganjil. Karena dipandang sangat istimewa, bab yang menjelaskan tentang Malam Kemuliaan (Lailat al Qadar) dilengkapi dengan kripto kombinasi bilangan prima, 7, 11, dan 19 sekaligus.
Klasifikasi: Sedang - Rumit.
Bumi diwaktu malam hari.
Sejumlah kawan menginginkan tulisan tentang Malam Kemuliaan atau “Lailat al Qadar’. Malam yang sangat istimewa dibulan Ramadhan. Siapa saja orang-orang yang beriman, jika pada malam itu “terekam” oleh para Malaikat sedang beribadah atau berbuat kebajikan, maka nilai pahalanya berlipat kali banyaknya, tidak terbayangkan. Ini adalah kado istimewa dari Tuhan Yang Maha Pemurah untuk memotivasi kita semua agar selalu beribadah dan berbuat kebajikan.
Merujuk riwayat Imam Bukhari, dari A’isyah, Nabi berkata: “Carilah Malam Kemuliaan itu pada malam ganjil dari sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan.”
Jika ingin memahami Malam al Qadar, mau tidak mau kita harus membaca surah Al Qadr/Kemuliaan yang ditempatkan pada posisi nomor 97, banyaknya 5 ayat. Ia ditempatkan setelah surah al Alaq/Janin bayi pra embrio, wahyu pertama (awal surah). Penempatannya aneh, karena surah ini turun diawal-awal Nabi mejalankan misinya di Makkah sekitar tahun 612/613 M. Kronologis wahyu, mayoritas Ulama berpendapat urutan ke- 25, tetapi dalam Kitab Mulia ia ditempatkan pada urutan ke-97. Mengapa begitu?
Surah Al Qadar tergolong surah yang sangat istimewa dalam Kitab Mulia. Tidak biasanya. Jika note sebelumnya mengenai kata Jihad yang dilengkapi kode 7 dan 19 - kali ini kombinasi kode 7, 11 dan 19 sekaligus. Bagaimanapun juga, Kitab Mulia menggunakan pola-pola standar kode 7, 11, 19 dan pola berpasangan. Serupa dengan konfigurasi kode genetika, Genom (kumpulan Gen) Manusia menggunakan bilangan prima 7, 11, 13 dan pola berpasangan pula. Bedanya, jika Kitab Mulia ditulis dengan 28 abjad Arab, kode genetika ditulis degan kombinasi 3 huruf dari 4 huruf yang tersedia, jauh lebih rumit (Les Relations Numeriques Du Code Genetique – Jean & Yves Boulay).
Baik, mari kita lihat isi surah al Qadar posisi ke-97.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al Qur’an) pada Malam al Qadar/Kemuliaan (1). Dan tahukan kamu Malam Kemuliaan itu? (2). Malam Kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan(3) Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril (Gabriel) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan (4). Penuh salam sejahtera sampai terbit fajar “(5).
Perlu dicatat, ' Lailat al Qadar' atau biasa disebut Lailatul Qadar memiliki makna lebih dari satu:
Al Qadr disebut ‘Tertentu’ karena memang ia muncul hanya pada malam ‘Tertentu’, yaitu setelah tanggal 20 Ramadhan . Tradisi Islam yang diceritakan berbagai riwayat, Malam Tertentu muncul pada tanggal-tanggal ganjil di bulan istimewa - yaitu tanggal 21, 23, 25, 27, 29. Jika ini dapat dianggap sebagai patokan umum (rule of thumbs), maka sungguh ‘kebetulan’, karena jumlah digitnya adalah bilangan kelipatan 7, atau 2+1+2+3+2+5+2+7+2+9= 35, 7 x 5.
Al Qadr juga bisa bermakna ‘Sempit’, ditunjukkan pada makna (Qs, 65:07). Boleh jadi kesempatan untuk mendapatkan rahmat dalam malam ini ada dalam koridor waktu yang singkat, “window opportunity’ – nya sempit, mungkin saja hanya beberapa menit.
Al Qadr, umumnya dimaknai dengan ‘Kemuliaan’. Sehingga ‘Lait al Qadar’ adalah Malam Kemuliaan. , Kata al Qadar yang bermakna ‘Kemuliaan’ ditemukan pada (Qs 06:91), yang menceritakan kelompok penyembah berhala di Makkah. “ Mereka tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya….”. Dengan demikian orang yang beriman yang mendapatkan Malam Kemuliaan ini, ia akan mendapat pahala yang luar biasa banyaknya, nilainya lebih baik dari nilai ibadah 1000 bulan.
Perhatikan dibawah ini, ayat khusus!
“ Dan tahukah kamu apakah (wa ma adraka) malam al qadar itu?” (Qs, 97:02)
Tiga belas kali kalimat ‘ma adraka’ diulang oleh Kitab Mulia, tiga diantaranya menunjukkan kehebatan neraka tingkat 5,6,7. Misalnya Neraka Saqar/Pembakar Kulit – Penghuninya tidak hidup dan tidak mati (Qs, 74: 26-29). Keterangan lainnya, memberi isyarat fenomena alam Bintang Penembus, atau bintang Netron (Pulsar) yang sedang sekarat, dimana radiasi magnetnya mampu menembus atmosfir hingga alat ukur Geiger Counter di Bumi ‘diketuk atau ath Tharq’ dan berbunyi ‘bip’ beberapa kali (The Unifying Theory – Dr Mohammed Asadi). Peristiwa ini diisyaratkan dalam surat ath Thariq/Bintang Penembus. Sebagian lagi menjelaskan Hari Berkumpul yang dahsyat, dan satu ayat digunakan untuk memberi isyarat keistimewaan ‘Malam al Qadar’, atau Malam Kemuliaan. Kata ’ma adraka’ dalam Kitab Mulia menunjukkan isyarat , ada sesuatu peristiwa yang sangat luar biasa. Pakar tafsir, sebut saja Imam al-Syaukani dalam karya tafsirnya, Fath al-Qadir, menyebutkan, kata “maa adraka” adalah bentuk pertanyaan (istifham) yang digunakan untuk menunjukkan bahwa yang menjadi obyek pertanyaan adalah hal-hal yang sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh nalar manusia.
Mengapa ‘lebih baik dari 1000 bulan’?Pada suatu hari, sekitar tahun 612 M, Nabi mendapat informasi tentang kisah seorang Bani Israxx (tidak ditulis) pengikut Musa as (Moses) yang mampu beribadah terus menerus selama kurun waktu 1000 bulan atau 83 tahun lebih 4 bulan. Siangnya membantu Musa as berjuang, malamnya mendekatkan dirinya pada Tuhan. Nabi sangat kagum dan menginginkan agar diantara Muslim mendapat kesempatan yang serupa (Ibnu Jarir dari Mujahid) - maka Tuhan Yang Maha Pemurah mengabulkan harapan Nabi, dan turunlah surah al Qadar – Malam Kemuliaan yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan . Bagaimanapun juga, fakta sejarah - usia generasi Pharaouh (Fira’un) Dinasti ke-19 dan Musa as , 3250 tahun yang lalu - sangat panjang- umumnya diatas seratus tahun. Tradisi agama Yahudi menyebutkan bahwa Musa as meningal dunia pada usia sekitar 120 tahun, dan mulai berdialog dengan Pharaouh Ramses II penguasa Mesir Kuno diusia 80 tahun. Bandingkan dengan usia Nabi, 63 tahun telah wafat.
‘Kemuliaan’ lebih baik dari seribu bulan dapat dicapai, bilamana orang- orang yang beriman diketahui sedang beribadah, mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Pemurah pada Malam Tertentu di bulan Ramadhan. Itulah Malam istimewa pada saat orang beriman berpuasa siang harinya di Bulan Yang Diberkahi. Malam dimana, para Malaikat hingga terbit Fajar memberi salam, mendoakan umat manusia agar selalu dalam keadaan ‘salaam’.
Kata ‘salaam’ dari segi bahasa, diartikan sebagai kebebasan dari segala macam kekurangan, apapun bentuknya - sehingga seseorang yang hidup dalam keadaan ‘salaam’ artinya bebas dari penyakit, kemiskinan, kebodohan, dan jauh dari aib atau perbuatan tercela. (Tafsir Al-Mishbah – Dr. Quraish Shihab).
Dalam Jurnal Natural Phenomenon, djelaskan bahwa radiasi dari Bintang, Bulan atau benda langit lainnya di malam hari mempengaruhi tingkat getaran otak. Gravitasi dan radiasi bulan di saat Bulan Purnama, selain meningkatkan permukaan air laut juga menarik cairan pada membran otak. Sehingga secara teoritis, sel-sel otak menjadi lebih aktif dan peka. Sangat baik untuk menerima informasi atau membengun kesadaran baru pada malam hari, terutama disaat bulan Purnama. Terlebih pada bulan Ramadhan, dimana siang harinya, orang berpuasa selama berhari-hari berturut – turut, sangat membantu menjernihkan pikiran manusia. Daya pemahamannya menjadi berlipat ganda, dibandingkan hari-hari biasa.
Kali ini, bulan Ramadhan diikuti fenomena yang memanjakan mata. Hadirnya trio planet (Venus, Mercurius dan Mars) bertengger menghiasi langit, sangat terang – membentuk formasi segi tiga dekat Bulan. Planet Mars terlihat terang seperti Bintang, puncaknya pada tanggal 27 Agustus 2010 yang lalu bertepatan pada tanggal 17/18 Ramadhan. Peristiwa langka ini terjadi setiap 2280 tahun sekali (Jurnal ilmiah - Mathematical and Natural Sciences, 2008), atau 120 kali siklus Meton, dimana siklus Meton terjadi setiap 19 tahun sekali. Begitu ‘kebetulan’, kode alam ini menunjukkan 19 x 120. Bilangan kelipatan 19, bilangan prima.
Siklus Meton atau Metonic cycles adalah fenomena alam yang berperiode 235 lunasi atau tepat 19 tahun Solar (tahun Masehi/Gregorian) dimana fase Bulan akan tepat berulang pada tanggal yang sama di tahun Solar. Misalnya, jika Bulan purnama posisinya dekat Bintang Aries, maka Bulan akan kembali tepat pada posisi tersebut, bukan bulan depan, atau tahun depan – tetapi 19 tahun kemudian!
Seputar Kripto
![]() |
| Al Qur'an antik |
Dengan bahasa kripto, pembaca akan lebih memahami, mengapa – misalnya – susunan surah pada Kitab Mulia tidak sama dengan kronologis turunnya wahyu. Penempatan ayat yang terkesan acak – sebenarnya justru terstruktur ajaib, matematis murni. Bahasa kripto atau kadang disebut bahasa angka-angka (The Numb3rs), ‘‘akan menambah keyakinan bagi orang-orang yang beriman” (Qs, 74:31).
Surah Al Qadr dalam Kitab Mulia tersusun dengan urutan nomor 97, jauh dibelakang, dengan jumlah ayatnya 5, termasuk surah pendek dari 19 surah pendek yang ada. Disebut surah pendek karena jumlah ayatnya sedikit, lebih kecil dari 9 ayat. Ada sesuatu yang luar biasa! Surah pendek hanya ada di nomor surah, dimana digit awalnya hanya “1” dan “9”. PERHATIKAN, tidak ada surah pendek dimana urutan surahnya memiliki digit awal diluar “1” dan ”9”. Jika ada surah pendek, diawali dengan digit “2” atau “3”, misalnya – maka al Qur’an tersebut salah atau palsu! Inilah kripto.
Sebelum kita masuk lebih detil, mari kita lihat kripto sederhana pada sistem bank. Jika pembaca memiliki kartu ATM, ‘debit card’ atau ‘credit card’, maka dibelakang kartu ada 16 digit angka tertentu yang dibagi dalam format 4x4. Kripto, yang menunjukkan otentik, ke 16 angka tadi jumlahnya harus membentuk angka kelipatan bilangan prima, 3, 5, atau 7. Bergantung bank penerbitnya. Citibank biasa menggunakan bilangan prima 3 atau 5.
Misalnya saja, kartu Visa Citibank saya : 4591 7900 6045 XXXX, dimana jumlah digitnya adalah 60 atau 4+5+9+1+7+9+0+0+X+X+X=X. Bilangan 60, atau 5 x 12, atau 3x20. Ini kripto yang menggunakan bilangan prima 5 atau 3. Artinya, kartu ini otentik dikeluarkan oleh Citibank.
Sekarang, kita lihat fakta kripto yang sederhana, penggunaan bilangan prima 7,11, dan 19 dengan berbagai pola kombinasi sekaligus:
Angka 1000 bulan ditempatkan pada ayat 3, dan surah nomor 97. Tidak bisa tidak, karena jumlahnya 1000+3+97 adalah 1100, atau 11x100. Suatu hal yang spesifik, kode 11 ini serupa dengan penempatan obyek langit Bulan, Matahari dan Bintang pada judul al Qur’an. (Lihat Note sebelumnya).
Kripto ini diperkuat dengan posisi surah, uratan ayatnya dan jumlah ayat surah tersebut. Perhatikan, membentuk suatu bilangan, yaitu bilangan 9 7 3 5. Bilangan 9735 adalah bilangan kelipatan 11 juga, karena merupakan perkalian 11 x 885. Disini kita dapat memahami, mengapa posisi surah al Qadar jauh dibelakang, padahal kronologis urutan wahyu ia ada pada posisi 25.
Jumlah ayat Kitab Mulia sampai dengan ayat nomor 3 (“lebih baik dari 1000 bulan”), adalah 6127 ayat. Sederhana, dapat dihitung dimulai dari surah pertama Al Fatihaah/Pembuka 7 ayat, surah Al Baqarah/Sapi Betina….terus sampai dengan surah Al Qadr/Kemuliaan ayat 3 atau 7+286+200+175….+19+3= 6127, atau 11 x 557. Bilangan tersebut juga bilangan kelipatan 11.
Nah, kini - akan di tunjukkan kode bilangan 7, serupa dengan kode kata JIHAD, pada catatan sebelumnya. Kita akan lihat, bagaimana posisi ayat 6127 ini terhadap jumlah 6236 ayat Kitab Mulia seluruhnya? Perhatikan, bilangan yang terbentuk, dideretkan dari posisi ayat adalah:
6 1 2 7 6 2 3 6
Kode 8 digit, 7 x 8753748. Bilangan ini adalah kelipatan 7. Numun jumlah digitnya merupakan kode 11, yaitu bilangan kelipatan 11. Lihat saja k saja: 6+1+2+7+6+2+3+6=33, atau 11 x 3.
Proteksi yang berlapis, tidak bisa kita bayangkan sebelumnya, jika tidak dibedah.
Kode 7 juga ditunjukkan: Iini menjawab mengapa Al Qadar harus ditempatkan pada urutan 97. Mengapa demikian?
Perhatikan, bila nomor surahnya kita jumlahkan seluruhnya dari 1 sampai dengan 97, atau 1+2+3+4+5+6+7+………….+96+97=4753, atau 7 x 679. Bilangan kelipatan 7 juga. Angka 4753 adalah kode posisi surah al Qadar.
Diatas adalah kripto paling sederhana, untuk menunjukkan bagaimana istimewanya surah al Qadar, hingga dilindungi sekaligus dengan kode bilangan 7, 11, dan 19. Otentik, yang menunjukkan kepada pembaca, bahwa ‘keterangan’ ini bukan dikarang oleh Nabi.
Kripto yang sangat rumit adalah kripto yang menunjukkan jumlah abjad pada tiap kata dalam surah tersebut, membentuk bilangan puluhan digit.
Tapi Mengapa Ramadhan?
![]() |
| Jagad Raya |
Ini pertanyaan yang sulit dijawab - jika ada yang bertanya, mengapa Malam Kemuliaan ditetapkan pada Bulan Ramadhan?
Jawaban standar: Kita dapat mengatakan hal ini disebabkan, ayat-ayat Kitab Mulia diturunkan sekaligus pada bulan tersebut dari ‘Pusat Arsip’ (Lauh Mahfudz) di langit terjauh ke langit terdekat (as samaa’ dunya). Setelah itu baru didistribusikan bertahap kepada umat manusia melalui Nabi dalam berbagai peristiwa di Bumi, tahun 610 – 632 M. Kejadian ini, sekaligus digunakan sebagai peringatan turunnya ayat-ayat Kitab Mulia.
Tetapi tetap saja – menjadi pertanyaan - mengapa Tuhan Maha Pemurah memilih bulan tersebut, bukan bulan sebelumnya atau bulan yang lain?” Seharusnya ada alasan lain?
Barangkali sulit dijelaskan dengan menggunakan bahasa lisan atau verbal.
Coba kita sekarang dengan bahasa yang lain, bahasa angka – bagaimanapun juga - karena firman Illahi, “segala sesuatu diciptakan dengan hitungan yang sangat teliti, satu persatu/math” (Qs, 72:28).
Bulan Ramadhan adalah bulan ke-9 dalam kalendar Islam yang dimulai dengan bulan : (1) Muharram, (2)Safar, (3) Rabiul Awal, (4) Rabiul Akhir, (5)Jumadil Awal, (6) Jumadil Akhir, (7) Rajab, (8) Syaban, (9) Ramadhan, (10) Syawal, (11) Dzulkaidah, dan (12) Dzulhijjah.
Angka 9, tidak berarti apa-apa! Tapi, jika semua parameter digabungkan, dimulai dari bulan, tanggal-tanggal ganjil, dan angka 1000 bulan - maka ia baru bermakna. Perhatikan! Masukkan angka parameter tersebut, yaitu urutan bulan 9, tanggalnya :21, 23, 25, 27, 29, serta angka 1000, sebagai nilai 1000 bulan. Kita akan dapatkan bilangan, berupa kode Malam Kemuliaan:
9 2 1 2 3 2 5 2 7 2 9 1 0 0 0.
Kripto 15 digit diatas menjukkan bulan, tanggal dan nilai yang diraih. Disebut kripto, karena merupakan bilangan kelipatan angka 19, kode utama yang biasa digunakan oleh Kitab Mulia Al Qur’an dan alam.
Lihat otentitasnya:
9 2 1 2 3 2 5 2 7 2 9 1 0 0 0 atau 19 x 4 8 4 8 5 9 2 2 4 8 9 0 0 0.
Bahasa angka dapat membantu meyakinkan kita, bahwa peristiwa Malam Kemuliaan memang harus di bulan 9. Sebab jika urutan bulan atau tanggalnya diganti, kode tersebut tidak akan terbentuk, karena bukan kelipatan bilangan prima 19. Ia tidak akan menunjukkan arti apa-apa dalam verifikasi otentitas sebuah firman Illahi. Hanya kombinasi angka-angka tersebut yang menghasilkan kode 15 digit. Dalam bahasa ATM (Automatic Teller Machine), ketika PIN (Personal Information Number) atau ‘password’ enam digit salah dimasukkan sebanyak 3 kali berturut-turut, kartu akan ditolak atau ditelan.
Dengan contoh-contoh diatas, pembaca akan jauh lebih memahami struktur Kitab Mulia yang unik – setiap posisi surah dan ayat dihitung teliti – merupakan kombinasi bahasa angka dengan makna.
‘Lailat al Qadar” atau Malam Kemuliaan adalah peristiwa yang berulang setiap tahun, diberikan pada malam bulan Ramadhan bagi orang-orang yang sedang beribadah mendekatkan dirinya pada Tuhan atau berbuat kebajikan. Dimulai setelah 20 Ramadhan, pada tanggal-tanggal ganjil.Selamat mengambil kesempatan yang baik ini, dengan banyak beramal dan ibadah dengan ikhlas. Siapa tahu diantara kita akan mendapatkan “The Noble Night Award”, menikmati hadiah khusus , ‘bernilai lebih baik dari 1000 bulan’. Tetapi, soal dapat atau tidaknya, jangan terlalu kita pikirkan – hal terpenting menurut risalah Illahi - beribadahlah semata-mata karena Tuhan Yang Maha Pemurah.
Salam
Arifin Mufti
Bandung, West Java, Indonesia.
Buku dan artikel terkait: 1). The Unifying Theory – Dr Mohamed Asadi, 2). Jurnal Mathematical and Natural Phenomenon - 2008, 3)Tafsir Surah-Surah Pendek – Dr Quraish Shihab, 4). Kumpulan Hadist/Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al Qur’an – K.H.Q Shaleh, 5). Misteri Kitab Mulia – Arifin Muftie, 6). Les Relations Numeriques Du Code Genetique – Jean & Yves Boulay, 7). Kumpulan Catatan/Artikel – Arifin Mufti.
KANGGO SING SENENG PEWAYANGAN
![]() |
| Sanghyang Sita / Jeng Nabi Syis |
Sejarah Pewayangan sing Awit Bongkot...
Kisah Nabi Adam dan Sis
Di dalam Taman Surga lahir seorang manusia yang diberi nama Adam. Ketika Tuhan memilihnya sebagai kalifah, para malaikat yang dipimpin Ajajil mengajukan keberatan karena umat manusia dinilai hanya berbuat kerusakan saja. Maka, Tuhan pun mengajari Adam berbagai macam ilmu pengetahuan yang membuatnya mampu mengalahkan kepandaian para malaikat.
Di hadapan para malaikat, Tuhan menguji kepandaian Adam. Para malaikat akhirnya mengakui keunggulan Adam. Tuhan kemudian memerintahkan semua malaikat untuk bersujud menghormat kepadanya. Para malaikat serentak bersujud melaksanakan perintah Tuhan, kecuali pemimpin mereka yang bernama Ajajil.
Malaikat Ajajil menolak bersujud kepada Adam karena baginya hanya Tuhan semata, satu-satunya yang pantas disembah. Meskipun mengajukan berbagai alasan, tetap saja Ajajil dianggap sebagai pembangkang. Ajajil kemudian dikeluarkan dari Taman Surga dan dijuluki sebagai Sang Iblis.
Nabi Adam kemudian menikah dengan seorang wanita anugerah Tuhan bernama Hawa. Keduanya diizinkan menikmati segala macam isi Taman Surga kecuali buah dari suatu pohon larangan.
Sementara itu Ajajil Sang Iblis datang menyusup ke dalam Taman Surga dengan menyamar sebagai seekor ular. Tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa Adam bukan sosok sempurna dan bisa dikalahkan olehnya. Dengan kepandaiannya berbicara, ular samaran Ajajil berhasil menghasut Adam dan Hawa sehingga keduanya memakan buah pohon larangan. Mengetahui hal itu, Tuhan pun menghukum pasangan tersebut keluar dari Taman Surga.
Adam kemudian membangun tempat tinggal di daerah Asia Barat Daya bernama Kerajaan Kusniyamalebari. Setelah memimpin selama 129 tahun, barulah Adam dan Hawa memiliki keturunan. Setiap kali melahirkan mereka mendapatkan putra dan putri sekaligus. Putra yang tampan lahir bersama putri yang cantik, sedangkan putra yang buruk rupa lahir bersama putri yang buruk pula.
Setelah lahir lima pasangan, Adam dan Hawa berniat menikahkan putra dan putrinya itu. Adam memutuskan untuk menikahkan putra yang tampan dengan putri yang jelek dan sebaliknya. Sementara itu, Hawa mengusulkan agar putra yang tampan dinikahkan dengan putri yang cantik, sedangkan putra yang jelek dengan putri yang jelek sesuai pasangan kelahiran masing-masing.
Adam dan Hawa sama-sama saling mempertahankan pendapat. Keduanya sepakat mengeluarkan rahsya untuk mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Atas kehendak Tuhan, rahsya milik Adam tercipta menjadi bayi namun hanya berwujud ragangan, sementara rahsya milik Hawa tetap berwujud darah. Menyaksikan hal itu Hawa pasrah terhadap keputusan Adam.
Beberapa waktu kemudian, cahaya nubuwah Adam keluar dari dahinya dan berpindah pada tubuh ragangan bayi tersebut. Akibatnya, ragangan bayi tersebut pun hidup menjadi bayi normal. Tuhan memberi petunjuk supaya bayi tersebut diberi nama Sis, di mana kelak ia akan menurunkan para pemimpin dunia. Adam sangat bersyukur dan membawa bayi Sis pulang.
Sepeninggal Adam, cupu yang tadinya digunakan sebagai wadah rahsya terhempas oleh angin kencang sehingga jatuh di dekat Samudera Hijau. Cupu tersebut ditemukan oleh Malaikat Ajajil dan disimpannya sebagai pusaka, diberi nama Cupumanik Astagina.
Beberapa tahun kemudian Sis tumbuh menjadi manusia istimewa yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Selain memiliki lima pasang kakak, Sis juga memiliki 35 pasang adik dan seorang adik perempuan yang lahir tanpa pasangan bernama, Siti Hunun.
Pada suatu hari Nabi Adam mengutus Sis untuk mengambil buah di Taman Surga. Sis berhasil memasuki tempat tersebut dan mendapatkan buah yang diinginkan Adam. Selain itu, Sis juga mendapatkan anugerah dari Tuhan berupa seorang bidadari bernama Dewi Mulat.
Sis kemudian menikah dengan Mulat. Keduanya hidup berumah tangga di negeri Kusniyamalebari.
![]() |
| Sanghyang Nur Cahya |
Ajajil – pemimpin para malaikat yang terusir dari Taman Surga dan kini dijuluki sebagai Sang Iblis – pada suatu hari mendengar ramalan bahwa putra Nabi Adam yang bernama Sayid Sis kelak akan menurunkan para pemimpin dunia. Maka, Ajajil pun berdoa memohon kepada Tuhan supaya bisa menyatukan keturunannya dengan keturunan Sis. Doa tersebut dikabulkan. Ajajil kemudian mendapatkan seorang anak perempuan yang diberi nama Dewi Dlajah.
Malaikat Ajajil kemudian membawa Dlajah – yang wajahnya telah diserupakan dengan Mulat – untuk disusupkan ke negeri Kusniyamalebari. Sementara itu Mulat yang asli disembunyikan oleh Ajajil. Setelah mengandung benih Sis, barulah Dlajah diambil oleh Ajajil, dan Mulat yang asli dikembalikan.
Beberapa waktu kemudian, bersamaan dengan terbitnya matahari, Mulat melahirkan dua orang anak Sis. Yang satu berwujud bayi normal, sedangkan yang satunya berwujud cahaya. Di lain tempat pada saat matahari terbenam, Dlajah juga melahirkan putra Sis namun berwujud darah yang berkilauan. Diam-diam Ajajil membawa “cucunya” itu untuk dipersatukan dengan putra Mulat yang berwujud cahaya. Terciptalah seorang bayi laki-laki yang tubuhnya memancarkan cahaya tapi tidak bisa diraba. Nabi Adam kemudian memberikan nama kepada kedua cucunya tersebut. Bayi yang bertubuh normal diberi nama Anwas, sedangkan yang memancarkan cahaya diberi nama Anwar.
Sayid Anwas tumbuh menjadi seorang pemuda yang gemar belajar ilmu agama, sedangkan Sayid Anwar gemar menjalani tapa brata. Anwar pernah menjalani tapa yang sangat berat di dalam Hutan Ambalah. Di sana ia bertemu seorang pendeta tua yang sebenarnya samaran Ajajil. Kepada pendeta itu ia mendapatkan berbagai macam ilmu kesaktian. Anwar kemudian kembali ke Kusniyamalebari. Melihat gelagatnya, Nabi Adam meramalkan kelak cucunya itu akan keluar dari syariat agama yang ia ajarkan.
Beberapa waktu kemudian Nabi Adam meninggal dunia pada usia 990 tahun. Anwar merasa heran karena kakeknya itu seorang nabi tapi mengapa masih tetap saja tidak luput dari kematian. Ia pun pergi berkelana untuk mencari cara agar dapat hidup abadi.
Anwar kemudian dijemput oleh Malaikat Ajajil – kakeknya – untuk diajak ke Tanah Lulmat untuk meraih cita-citanya itu. Tanah Lulmat sendiri terletak di daerah Kutub Utara. Setelah bertapa cukup berat, Anwar mendapatkan Tirtamarta Kamandalu, suatu air kehidupan yang berasal dari lautan rahmat, yang terpancar dari mustika awan. Setelah mandi air tersebut, Anwar pun menjadi makhluk abadi. Malaikat Ajajil memberikan cupu pusaka bernama Astagina sebagai wadah air tersebut untuk diberikan kepada anak cucu Anwar. Cupu tersebut semula adalah pusaka Nabi Adam.
Dalam perjalanan pulang Anwar menemukan pohon ajaib bernama Rewan yang akarnya bisa digunakan untuk menghidupkan orang mati di luar takdir. Anwar mengambil akar pohon tersebut sebagai pusaka yang diberinya nama Lata Mahosadi. Setelah berpisah dengan Ajajil yang kembali ke alamnya, Anwar tiba-tiba menderita linglung. Ia kehilangan jalan pulang menuju Kusniyamalebari sehingga berkelana tak tentu arah sampai ratusan tahun lamanya.
Selanjutnya Anwar berguru kepada dua malaikat bernama Harut dan Marut yang mengajarinya ilmu tentang bahasa segala jenis makhluk, baik yang nyata maupun gaib. Anwar kemudian bertanya kepada gurunya di mana letak surga dan neraka. Kedua malaikat itu berbohong bahwa surga dan neraka terletak di hulu sungai Nil.
Tanpa rasa curiga Anwar berjalan menyusuri sungai Nil dan di sebuah lembah ia bertemu putra-putri Nabi Adam yang berumur panjang bernama Lata dan Ujya. Kepada paman dan bibinya itu ia belajar ilmu melihat masa depan.
Anwar kemudian melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai ke mata air sumber sungai Nil yang terletak di lereng sebuah gunung. Di sana terdengar suara Malaikat Ajajil memanggilnya untuk naik ke puncak. Ajajil yang menyamar sebagai kakek tua mengaku utusan Tuhan untuk menyerahkan permata Retnadumilah kepada Anwar. Dengan memasuki permata itu, Anwar dapat menyaksikan keindahan surga dan kengerian neraka.
Karena sifatnya yang tulus dan yakin, Anwar berhasil meraih cita-cita meskipun semula dibohongi oleh Harut dan Marut. Atas petunjuk Ajajil, selanjutnya Anwar berkelana ke arah timur dan sampai di Pulau Dewa. Pulau ini merupakan gabungan dua buah pulau bernama Lakdewa dan Maldewa. Di sana ia bertapa menghadap matahari pada siangnya, dan berendam di dalam air pada malamnya. Setelah tujuh tahun, Anwar berganti raga menjadi makhluk halus. Ia dipuja dan disembah oleh bangsa jin dan siluman di sekitar tempatnya bertapa.
Anwar kemudian menjadi dewa pertama yang bergelar Sanghyang Nurcahya. Ia membangun sebuah kahyangan indah yang melayang di atas puncak gunung tempat dirinya bertapa.
Pada suatu hari raja jin Pulau Dewa yang bernama Prabu Nurradi datang untuk menantang Sanghyang Nurcahya karena merasa tersaingi. Setelah bertarung adu kesaktian, Nurradi akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan seluruh kekuasaannya kepada Nurcahya. Putrinya yang bernama Dewi Nurrini juga diserahkan sebagai istri Nurcahya. Dari perkawinan itu lahir seorang putra berbadan halus, diberi nama Sanghyang Nurrasa.
Sanghyang Nurcahya menuliskan kisah hidupnya dalam kitab pusaka Pustakadarya yang tidak berwujud namun bisa berbunyi bila dipikirkan saja. Bersama dengan pusaka-pusaka yang lain (Tirtamarta Kamandanu, Lata Mahosadi, Cupu Astagina, dan Retnadumilah), kitab tersebut diwariskan kepada Nurrasa setelah putranya itu dewasa. Selanjutnya, Nurcahya pun bersatu ke dalam diri Nurrasa.
Kemunculan Sanghyang Wenang
![]() |
| Sanghyang Wenang |
Setelah cukup lama berkuasa, Sanghyang Nurrasa menikah dengan Dewi Sarwati putri Prabu Rawangin raja jin Pulau Darma. Dari perkawinan itu mula-mula lahir dua orang putra tanpa wujud. Masing-masing hanya terdengar suaranya saja. Terdengar keduanya berebut siapa yang lebih tua.
Sanghyang Nurrasa kemudian mengheningkan cipta, masuk ke alam gaib. Dengan ketekunannya ia bisa melihat wujud kedua putranya itu. Yang bersuara besar berada di depan, dan yang bersuara kecil berada di belakang. Keduanya bisa terlihat setelah disiram dengan Tirtamarta Kamandalu. Nurrasa akhirnya menetapkan, bahwa yang di belakang lebih tua daripada yang di depan.
Putra bersuara kecil yang ada di belakang itu diberi nama Sanghyang Darmajaka, sementara putra bersuara besar yang ada di depan diberi nama Sanghyang Wenang. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 2900 Matahari, atau tahun 2989 Bulan.
Beberapa tahun kemudian, Dewi Sarwati melahirkan seorang putra lagi, kali ini berwujud jin. Putra ketiga tersebut diberi nama Sanghyang Taya.
Setelah ketiga putranya dewasa, Sanghyang Nurrasa mewariskan semua ilmu kesaktiannya kepada mereka. Di antara ketiganya, Sanghyang Wenang paling berbakat sehingga terpilih sebagai ahli waris Kahyangan Pulau Dewa. Sanghyang Nurrasa kemudian turun takhta dan menyatu ke dalam diri Sanghyang Wenang.
Sama seperti kakeknya, Sanghyang Wenang juga gemar bertapa dan olah rasa. Segala macam tempat keramat ia datangi. Segala macam jenis tapa ia jalankan. Ia kemudian membangun istana melayang di atas Gunung Tunggal, sebuah gunung tertinggi di Pulau Dewa. Setelah 300 tahun bertakhta, ia akhirnya dipertuhankan oleh seluruh jin di pulau tersebut.
Pada saat itu hidup seorang raja bangsa manusia bernama Prabu Hari dari kerajaan Keling di Jambudwipa. Ia marah mendengar ulah Sanghyang Wenang yang mengaku Tuhan tersebut. Tanpa membawa pasukan ia datang menggempur Kahyangan Pulau Dewa seorang diri. Perang adu kesaktian pun terjadi. Dalam pertempuran itu Prabu Hari akhirnya mengakui keunggulan Sanghyang Wenang.
Prabu Hari kemudian mempersembahkan putrinya yang bernama Dewi Sahoti sebagai istri Sanghyang Wenang. Dari perkawinan itu lahir seorang putra berwujud akyan, yang diliputi cahaya merah, kuning, hitam, dan putih. Setelah dimandikan dengan Tirtamarta Kamandalu, keempat cahaya dalam tubuh bayi itu bersatu. Bayi tersebut kemudian menjadi sosok berbadan rohani yang memancarkan cahaya gemerlapan. Putra pertama Sanghyang Wenang itu diberi nama Sanghyang Tunggal. Peristiwa ini terjadi pada tahun 3500 Matahari.
Beberapa waktu kemudian Dewi Sahoti melahirkan bayi kembar dampit, laki-laki-perempuan, yang keduanya juga berwujud akyan, dengan diliputi cahaya gemerlapan. Keduanya kemudian dimandikan dengan Tirtamarta Kamandalu dan diberi nama oleh sang ayah. Yang laki-laki diberi nama Sanghyang Hening, sementara yang perempuan diberi nama Dewi Suyati.
Sementara itu kakak Sanghyang Wenang, yaitu Sanghyang Darmajaka juga sudah menikah. Istrinya bernama Dewi Sikandi, putri Prabu Sikanda dari Kerajaan Selakandi. Kerajaan ini terletak di Tanah Srilangka.
Dari perkawinan tersebut Sanghyang Darmajaka mendapatkan lima orang anak, yaitu Dewi Darmani, Sanghyang Darmana, Sanghyang Triyarta, Sanghyang Caturkanaka, dan Sanghyang Pancaresi.
Sanghyang Darmajaka kemudian berbesan dengan Sanghyang Wenang, yaitu melalui pernikahan Dewi Darmani dan Sanghyang Tunggal. Sanghyang Tunggal sendiri kemudian menjadi raja Keling, menggantikan sang kakek, Prabu Hari.
Anggepen bae Sejarah Pewayangan mau kuh pinangka nambah wawasan kula kabeh ning bidang budaya , pengambilane mbuh sing kitab apa....
tentang kebenaran kisah ? ya mbuh ...
lamun ana sing due kisah sing lengkap berikut referensi tulung pai weruh, kula...
NGAJI MAH WEKEL BODONE MALAH NEMEN....
Majlis Ta'lim JAMROH ( Jam'iyah Rotib Al Haddad ) ning Cigugurkaler - Cigugur kidul wis berjalan kurang lebih 6 taun.
kegiatane yaiku setiap Bengi Rebo Dzikir Rotib Haddad di lanjut kelawan pembacaan kitab Safinatun Najat mung sekien wis khatam terus di ganti karo kitab Fathul Qorib
Setiap Bengi Sabtu Pembacaan Kitab Al Hikam di lanjut karo diskusi tentang isi Al Hikam
Nanggapi pirang-pirang pertanyaan sing Jamaah mengenai macem-mecem persoalan urip semakin nambah krasa bodoh. tapi semakin kula ngrasa nambah bodo semakin kula nambah kiyeng ngaji
ning sor ana foto tasyakuran khataman Hikam sing pertama

ya mengkonon kari kudu ngomong mah Ngaji Wekel Bodo nambah Nemen tapi muga-muga Gusti Allah nganjingaken khususe jamaah Jamroh lan umume para pembaca di dadiaken golongane wongkang wekel ngaji amiiin
Lokasi : Pantai Kluwung Indah - Subang
Mbakar Iwak Etong , kakap, kalam kao
minangka sinbol Pembakaran Hawa Nafsu
supaya rada Anteng atine
( apan sih wis di paih mangan )
Kumpul-kumpul bareng Jama'ah JAMROH se keluargane nambah ningkataken Shilaturrohim lan Shillatussyauq
SUBHANALLOH indah ...
kegiatane yaiku setiap Bengi Rebo Dzikir Rotib Haddad di lanjut kelawan pembacaan kitab Safinatun Najat mung sekien wis khatam terus di ganti karo kitab Fathul Qorib
Setiap Bengi Sabtu Pembacaan Kitab Al Hikam di lanjut karo diskusi tentang isi Al Hikam
Nanggapi pirang-pirang pertanyaan sing Jamaah mengenai macem-mecem persoalan urip semakin nambah krasa bodoh. tapi semakin kula ngrasa nambah bodo semakin kula nambah kiyeng ngaji
ning sor ana foto tasyakuran khataman Hikam sing pertama

ya mengkonon kari kudu ngomong mah Ngaji Wekel Bodo nambah Nemen tapi muga-muga Gusti Allah nganjingaken khususe jamaah Jamroh lan umume para pembaca di dadiaken golongane wongkang wekel ngaji amiiinLokasi : Pantai Kluwung Indah - Subang
Mbakar Iwak Etong , kakap, kalam kao
minangka sinbol Pembakaran Hawa Nafsu
supaya rada Anteng atine
( apan sih wis di paih mangan )
Kumpul-kumpul bareng Jama'ah JAMROH se keluargane nambah ningkataken Shilaturrohim lan Shillatussyauq
SUBHANALLOH indah ...
Langganan:
Postingan (Atom)








.jpg)






