kelingan Jaman Bengen

Sering kali kerinduan membuncah saat mengingat masa-masa dulu
Tepatnya pada tahun 2004 an
Sebuah Musholla bernama Al Fattah Terletak di tepi jalan sebuah Desa dimana aku dilahirkan, di tempat itulah jiwaku dulu merasakan sejuk sorgawi dibawah bimbingan seseorang yang sebagian santri menganggap beliau bukan hanya sebagai Guru Ngaji, tapi juga Sebagai kakak yang senantiasa menyayangi , sebagai Sahabat yang senantiasa menampung segala keluh kesah, sebagai Tabib yang senantiasa menyembuhkan segala penyakit hati, sebagai teman yang senantiasa menghibur duka, sebagai Mursyid yang senantiasa membimbing dan mengarahkan kami menggapai Nikmatnya Ibadah kepada sang Kholiq, meskipun diantara santri termasuk Aku selalu menyusahkan dan senantiasa mengecewakan hatinya namun beliau selalu sabar menghadapi kenakalan kami yang memang pada saat itu kebanyakan santri Musholla Al Fattah dalam masa puber, masa pencarian jatidiri, masa awal merasakan cinta, masa selalu penasaran dalam hal apapun,
Namun kadang beliaupun bersikap tegas dalam menerapkan disiplin dalam belajar, sering kali Aku dihukum jika tidak hafal Nadzom yang memang wajib dihafalkan oleh santri satu kelas, beliaupun sangat memahami keinginan kami dalam menyalurkan hobi para santri seperti ketika Musyawaroh harian yaitu program kegiatan Musholla setiap ba’da Sholat Isya kami mengusulkan ingin dibuatkan sarana olahraga maka beliaupun langsung menyetujui dan kami pun bergotongroyong membuat lapangan basket sederhana di sebuah halaman rumah disamping musholla dan sebuah sarana untuk tenis meja tepat didepan musholla sampai saat ini seringkali aku merindukan saat-saat seperti dulu.
Setiap kali menjelang fajar aku yang memang setiap malam tidur di Musholla bersama santri lain dengan lembut dibangunkan untuk melaksanakan shalat tahajud dan witir dilanjutkan dengan dzikir tawajjuh sambil menunggu waktu shubuh, ada juga yang sulit sekali dibangunkan maka beliau membawa gayung berisi air untuk mengusap muka anak tersebut,iapun terbangun sambil cengar-cengir kemudian ngacir menuju bak mandi,
Suara Adzan Shubuh mendayu-dayu laksana ombak menggoyang perahu sebagian orang semakin lelap tak peduli dan sebagian lain langsung bergegas menuju panggilan Sholat diantaranya para santri putri Al Fattah dengan wajah manis berbalut kerudung yang ujungnya di ikat kebawah dagu dan di antara mereka ada sosok putri yang membuat malam tadi menjadi begitu lama karena mata tak mampu terpejam sang fajarpun lama sekali beranjak sedangkan bayang senyumnya selalu menari-nari dibawah atap langit-langit Musholla
Ah… pagi itu dia nampak begitu anggun namun aku sempat berfikir apakah dia sudah mandi? Tapi masa bodoh belum mandi juga wajah nya begitu segar berseri apa lagi kalau sudah…. Pagi itu aku mengenakan baju koko kesukaan ku dengan kain sarung madein tegalgubug apalagi dilengkapi kopyah pemberian Beliau, wah aku PEDE banget
Asssalamu.alaikum kang…
Wa alaikum salam…sendirian aja ?
Yaa kang, teman ku lagi berhalangan, ada titipan salam dari dia…
Bukan nya salam dari yang ngomong nya ? jawab ku agak bergetar, namun dia hanya tersenyum lalu menghilang dibalik pintu musholla. Ahhh gemeszsz
Sebagaiman biasa setiap ba’da Sholat Shubuh bukan membaca dzikiran sholat pada umumnya tapi di Musholla kami yang dibaca dzikir Rotib Al Haddad ditutup dengan Asma’ul Husnaa setelah itu beliau menyampaikan sedikit mau’idzoh dengan membaca hadits Qudsy lalu dijelaskan dengan penuh penghayatan kemudian kami duduk melingkar lalu maju satu persatu untuk menyetorkan hafalan Al Barzanjy setelah selesai setoran kami pun mulai aktivitas olah raga ada yang bermain basket, ada pula yang berlari pagi, sedangkan aku mengambil dua buah bet / alat pemukul bola pingpong yang satu aku serahkan pada gadis itu
Diapun menerima dengan senang hati lalu kamipun bermain tenis meja sambil di selingi canda tawa teman-teman lain yang sedang ngantri nunggu giliran bermain
Di sebelah sana Pengasuh musholla asyik menikmati teh panas sambil memandang para santri dengan senyum penuh arti tatapan mata penuh do’a dan harap semoga anak didiknya kelak menjadi orang yang bermanfaat.
Aku disini ya Allah sungguh sangat merindukan saat-saat itu…
Bagaimana kabar Al Fattah kini ?
Apa kabar Guru ku di sana saat ini…?
Kang…. Aku masih merasakan hangatnya do’a mu yang setiap waktu mengaliri darahku
Terimakasih kang… Aku selalu merindukan embun nya nasihatmu….

Ditulis oleh Santri “BADEG” mu ( Bandung )
Di dalam catatan ini : Yan Farel Hangjuang (catatan)